top of page
Search

Koran Sin Po, Pencetak Sejarah.

  • gagasanmahasiswa
  • Mar 7, 2019
  • 2 min read

Updated: May 21, 2019


Halo sobat semua!

Kali ini, kami mau menjelaskan tentang salah satu koran yang sedikit banyak membantu lho

atas kemerdekaan indonesia !

Apakah sobat semua sudah pernah dengar apa itu “Koran Sin Po” ?

Kalau belum mari simak di bawah ini, supaya menambah pengetahuan sobat sekalian

^^





APA SIH PERS KOLONIAL-PERS PERJUANGAN-PERS PRA KEMERDEKAAN?

a. Jadi teman-teman perkembangan pers di Indonesia dimulai dari sejak sebelum

kemerdekaan Indonesia. Pers kolonial diawali dengan koran pertama Belanda sekitar

tahun 1908. Koran ini digunakan sebagai media perdagangan.

b. Dan TERNYATA Koran sin po juga termasuk dalam pers kolonial karena koran ini

bertujuan untuk menyuarakan aspirasi golongan Tionghoa yang kerap menjadi korban

dari kesewenang-wenangan dan tindakan diskriminatif pemerintah kolonial.


Perjalanan Koran Sin Po

Koran Sin Po pertama kali terbit pada tahun 1910 dan terbit seminggu sekali menggunakan Bahasa Melayu. Surat kabar ini memiliki peranan penting dalam menyuarakan kemerdekaan Indonesia dan menjadi salah satu media yang memuat perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Tepat pada tahun 1912, Koran Sin Po berubah dari surat kabar mingguan menjadi surat kabar harian. Tidak hanya melakukan penerbitan dalam Bahasa Melayu, Koran Sin Po juga menerbitkan surat kabar dalam Bahasa Indonesia. Seorang wartawan ternama yaitu, Kwee Kek Beng menjadi pemimpin redaksi Koran Sin Po sejak tahun 1925 hingga 1947.


Hal yang menarik dari Koran Sin Po adalah bahwa surat kabar ini merupakan surat kabar pertama yang menulis teks lagu Indonesia Raya pada bulan November 1928. Perusahaan media Tionghoa ini juga melakukan terobosan dengan menerbitkan beberapa jenis koran Sin Po :

- Sin Po Chineesche Editie, yaitu koran edisi Mandarin yang terbit pada 12 Februari 1921

- Bin Seng, yaitu koran dengan harga yang lebih murah dari harian Sin Po yang terbit pada

Januari 1922

- Sin Po Oost-Java Editie, yaitu Sin Po edisi Jawa Timur, yang kemudian berubah nama

menjadi Sin Tit Po pada Juli 1922

- Sin Po Wekelijksche Editie , yaitu koran Sin Po edisi mingguan pada 7 April 1923

- De Chineesche Revue , berupa jurnal tiga bulanan yang terbit dalam Bahasa Belanda pada

Januari 1927. Dan ketika menerbitkan De Chineesche Revue, Sin Po pun menjadi media

Tionghoa terbesar pada saat itu.


Bubarnya Koran Sin Po

Penerbitan yang awalnya berjalan dengan lancar hingga akhirnya Koran Sin Po mendapat guncangan ketika Jepang menguasai Indonesia.

sehingga dilarang terbit, kecuali koran Hong Po dan bahkan 12 karyawan Sin Po dijebloskan

ke penjara di Bukit Duri. Jepang juga mengambil keuntungan dengan menggunakan

percetakan Sin Po kemudian mencetak koran mereka sendiri, yaitu Kung Yung Pao


Pada saat Jepang menyerah, semua mesin milik Sin Po dikembalikan tetapi Sin Po

mengalami kerugian karena semua bahan baku habis. Tahun 1946, Sin Po kembali terbit

walaupun hanya dengan empat halaman akibat keterbatasan kertas.

Tahun 1960, Sin Po mengeluarkan koran mingguan dengan nama Pantjawarta yang

kemudian berubah menjadi Warta Bhakti. Koran Warta Bhakti menyatakan hariannya

berhaluan serta mendukung Manifesto Politik Republik Indonesia. Dan setelah peristiwa

G30S, tahun 1965 koran Warta Bhakti dilarang untuk terbit untuk selama-lamanya.


Kontribusi Sin Po selama 55 tahun dalam dunia media pun dilupakan begitu saja.


Bagaimana teman-teman? Menarik bukan peranan Koran Sin Po dalam menuju kemerdekaan Indonesia. Semoga apa yang kami bahas ini dapat menambah wawasan teman-teman sekalian!

 
 
 

Comments


  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon
  • Grey Facebook Icon

© 2023 by The New Frontier. Proudly created with Wix.com

bottom of page